Satu kata terindah adalah, Change!
Dua kata terindah di hati manusia, Terima Kasih,
Tiga kata yang menghimpit dihati, Negeriku Sulit Berubah,
Empat kata yang membunuh, Negeriku Tidak Bisa Berubah,
Lima kata yang memanggil, Negeriku Butuh Aku untuk Berubah,
Banyak kata yang perlu diwaspadai, ….Mereka yang Berubah-ubah Terus dan yang Tak Mau Berubah Sama Sekali.
Demikian serangkaian buah pikir yang ditulis Rhenald Kasali dalam buku Re-Code Your Change DNA, sekian lama saya menatap tulisan yang tertera didepan mata.. Sedemikian dalam saya merenungkan kata-kata yang terangkai,dan saya biarkan larut menjelajah alam pikiran . Saya kembali menatap dalam-dalam apa yang tertulis pada baris pertama yaitu kata Change ( Perubahan ).
Jika dikaitkan dengan apa yang sekarang ramai diperbincangkan dalam dunia saya sebagai seorang guru, dalam setiap kesempatan ketika rapat dewan guru, kepala sekolah menekankan bahwa guru-guru harus berubah, disetiap pertemuan-pertemuan berupa seminar atau pada setiap pembukaan kegiatan-kegiatan pelatihan, para pejabat yang memberikan kata sambutan menekankan bahwa kita semua harus berubah sesuai dengan segala macam bentuk perubahan yang sedang terjadi dalam dunia pendidikan, baik itu menyikapi perubahan kurikulum, perubahan bahan ajar , perubahan cara mengajar dan banyak lagi perubahan-perubahan yang lain. Sedemikian banyaknya perubahan yang harus dilakukan sehingga guru-guru menjadi bingung perubahan apa yang harus di dahulukan, sehingga timbul berbagai macam pertanyaan yaitu apa yang harus saya rubah, apa yang menjadi prioritas pertama yang harus saya rubah, bagaimana caranya saya harus melakukan perubahan, siapa yang membantu saya untuk melakukan perubahan atau mengapa saya harus berubah.
Kembali saya mengutip tulisan Rhenald kasali yang menyatakan bahwa perubahan memerlukan pengorbanan, bahkan penderitaan, dan jujur saya katakan bahwa ungkapan ini mudah untuk diucapkan tetapi sangat sulit untuk dilaksanakan. Jika dikaitkan dengan berbagai macam pertanyaan tadi maka setuju atau tidak setuju dengan ungkapan ini, tetapi saya menggaris bawahi bahwa memang kalau kita ingin segala sesuatunya berubah, jelas memerlukan pengorbanan, baik pikiran, tenaga, waktu bahkan biaya.
Selanjutnya saya kembali untuk mengajak pembaca, merenungi bersama apa yang ditulis Renald Kasali, sehingga meskipun saya tidak menjawab satu persatu apa yang menjadi pertanyaan tentang perubahan, tetapi diri kita sendiri, saya dan para pembaca sekalian yang akan menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.
Dalam setiap diri individu memiliki setidaknya lima komponen dominan, yang disebut dengan ”the big five” ( Costa & Mc Crae, 1997 ). Kelima komponen tersebut dalam bahasa Inggris dikenal dengan OCEAN, yang merupakan akronim dari segala jenis keterbukaan:
- O (Openness To Experience) yaitu keterbukaan pikiran, khususnya terhadap hal-hal baru, hal-hal yang dialami dan dilihat dengan mata sendiri.
- C (Conscientiousness) yaitu keterbukaan hati dan telinga. Penuh kesadaran mendengarkan, baik yang terdengar maupun yang dirasakan.
- E ( Extroversion ) yaitu keterbukaan diri terhadap orang lain, kebersaman dan hubungan-hubungan.
- A ( Agreeableness ) yaitu keterbukaan terhadap kesepakatan ( tidak mudah memilih konflik )
- N ( Neoroticism ) yaitu keterbukaan terhadap tekanan-tekanan
Kembali kepada kontek perubahan yang diinginkan, jika dikaitkan dengan segala macam keterbukaan yang harus kita lakukan untuk menuju sebuah perubahan. Marilah kita mulai bersama-sama baik pihak guru, kepala sekolah, tata laksana sekolah, pengawas, pejabat dinas pendidikan atau siapapun pengambil kebijakan dalam dunia pendidikan memulai sebuah perubahan dari hal yang kecil dari diri sendiri dengan membuka pikiran kita, membuka hati dan telingan kita, membuka diri untuk mau bekerja sama dan berhubungan dengan orang lain, untuk tidak mudah terprovokasi hal-hal yang tidak rasional dan bersama-sama terbuka terhadap tekanan-tekanan yang dialami ketika melakukan perubahan.
CHANGE!
Februari 8, 2008 oleh nurulhudabjb